Si Kecil Pandai Meniru

Ketika anak berada dalam fase imitasi, anak senang meniru kegiatan yang dilakukan atau kata-kata yang diucapkan orang di sekitarnya. Apa yang harus orang tua lakukan ketika anak dalam fase ini?

Seperti yang disampaikan Psikolog Anak dari Taman Pengembangan Anak Wira Makara Psikologi Universitas Indonesia, Amalia Primarini, M.Psi, meniru merupakan pondasi awal dari kemampuan anak untuk belajar ketika mereka melihat apa yang dilakukan dan diucapkan orang-orang di sekelilingnya. Rasa ingin tahu yang besar mendorong anak mempelajari hal baru, salah satunya dengan meniru.

“Anak akan meniru melalui apa yang dilakukan orang lain kemudian ia akan melakukan seperti apa yang dilihatnya dengan caranya sendiri. Hal ini membantunya menguasai keterampilan dasar sehari-hari seperti misalnya berjalan, menyisir rambut, dan memakai baju. Selain itu, meniru juga dilakukan untuk mengasah kepedulian terhadap lingkungan seperti cara memperlakukan binatang peliharaan, berbicara di telepon,” jelas Amalia.

Amalia melanjutkan, setiap tahapan usia tentu berbeda pula apa yang ditirunya. Seperti anak usia 11 bulan yang senang meniru ekspresi muka orang seperti tersenyum, menggumam, atau menjulurkan lidah.

Selanjutnya pada usia 1-2 tahun anak mulai mengerti dan mulai ada proses berpikir sederhana bahwa apa yang dilakukannya untuk kesenangan. Bahkan anak usia 2 tahun bisa disebut sebagai ‘jagonya’ dalam meniru. Ya, mereka sangat ahli menirukan segala hal yang dilakukan orang tuanya seperti memerhatikan ibu memasak, mengamati ayah mencukur kumis, atau bahkan menirukan apa yang ia lihat di tv.

“Kemampuan motorik kasarnya juga mulai terasah seperti ketika mengamati tokoh kartun favoritnya ia akan bergoyang dan berdendang meskipun baru muncul musiknya saja. Orang tua biasanya tertawa dan senang melihatnya meski hanya gumaman dan tarian yang dimodifikasi anak namun lain waktu ia akan mengulanginya lagi karena membawa kesenangan baginya,” terang Amalia.

Ketika anak usia 3 tahun, mereka menikmati interaksi dengan anak-anak di atas usianya, terutama ketika ia bisa menirukan kegiatan yang ia amati. Mungkin bisa lihat di sekitar kita anak-anak pada usia ini hafal lagu penyanyi terkenal bahkan bisa mengikuti gerakan tariannya. Meskipun tidak selalu sama persis namun kegiatan meniru ini turut mengembangkan kemampuan bahasa dan keterampilan sosial anak.

Orang tua perlu mengingatkan adanya batasan yang harus diketahui jika anak mulai meniru hal-hal negatif. Seperti misalnya diketahui bahwa si anak mendapatkan pengaruh negatif dari teman-temannya, bukan berarti melarang sama sekali, namun ada aturan dan batasan berapa lama ia boleh bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Jika temannya terbukti memberi pengaruh negatif orang tua bisa memberikan sanksi yang sudah disepakati bersama.

Ya, apapun yang ditiru memang anak tidak selamanya positif, hal negatif pun bisa mereka tiru. Ketika meniru, anak juga otomatis melakukannya sebagai bentuk kegiatan bermain. Daya imajinasi yang dimiliki anak turut mendukungnya dalam mencoba berbagai hal baru yang dilihat dan ingin ditirunya.

Oleh karena itu penguatan bagi anak yang telah melakukan kegiatan positif akan membuat anak merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan sesuai sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan rasa bangga akan keberhasilannya. Senyuman dan tepuk tangan ketika anak bisa menyuapkan sendok makanan ke dalam mulutnya akan membuatnya mengulangi perbuatan tersebut seiring dengan kemampuan motoriknya yang semakin berkembang dan terarah.

Previous Post

No more post

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *