Merangkul Anak Tantrum

Vita, 28 tahun, kerap kewalahan menghadapi putranya yang jika menginkan sesuatu harus dituruti. Misalnya saat melewati toko mainan, anaknya minta dibelikan robot. Tak kunjung dituruti, segera saja ia menangis kencang dan berguling-guling hingga menarik perhatian sekelilingnya.

Menurut Psikolog Anak Anita Chandra, M.Psi, perilaku yang ditunjukkan anak tersebut termasuk dalam temper tantrum atau lebih dikenal dengan tantrum. Anita menjelaskan, sebenarnya temper tantrum merupakan masalah perilaku yang wajar dan umum yang ditampilkan anak-anak dalam masa perkembangannya.

Temper tantrum merupakan suatu masalah perilaku namun bukan berupa gangguan. Tantrum seringkali ditampilkan dalam bentuk perilaku menangis, teriak, marah, berguling-guling di lantai, menendang-nendang, hingga melempar dan merusak barang. Tak jarang anak tantrum juga menyakiti diri sendiri atau orang lain seperti memukul, menjambak, mencubit, menggigit, membenturkan kepala ke tembok, lantai dan sebagainya.

“Pada tingkatan yang lebih parah, seringkali anak tidak tampak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ia tidak mau mendengarkan orang lain dan tidak dapat mengontrol emosinya. Kemarahannya atau emosinya tampak mudah sekali naik,” tambah psikolog yang berpraktik di Klinik Anakku ini.

Kenali Penyebabnya

Walau dengan gradasi yang berbeda, fase ini merupakan fase perkembangan normal yang umumnya dilewati anak-anak, baik dalam jenis perilaku ataupun intensitasnya. Hal ini merupakan salah satu bagian dari tahapan anak belajar mengenai kontrol diri.

Anita menambahkan, tantrum juga merupakan bagian dari tahapan pengenalan akan diri (a sense of self) dan aturan lingkungan. Sesuai dengan tahapan perkembangannya, masalah perilaku tantrum umumnya muncul pada anak usia 2-3 tahun dan akan menurun di usia 4 tahun.

Lalu apa yang menjadi penyebab anak berperilaku tantrum?

Anita mengatakan, untuk mengetahuinya perlu dilakukan pendekatan behavioristik.

“Secara umum, perilaku termasuk perilaku tantrum dapat disebabkan karena adanya keinginan mendapatkan benda tertentu (mainan atau makanan), keinginan untuk melakukan suatu aktivitas, dan untuk mendapatkan perhatian. Misalnya jika anak ingin suatu mainan dan ia tidak mendapatkannya, ia memunculkan perilaku tantrum dan akhirnya ia mendapatkan benda tersebut. Maka di kemudian hari perilaku tantrum akan mungkin lebih sering muncul dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu,” ujarnya.

Penting! Kontrol Emosi Orang Tua

Jika sudah sampai pada perilaku tantrum, pengalihan dengan memberikan makanan atau mainan tidak disarankan. Hal ini akan membuat anak belajar, dengan menunjukkan perilaku tantrum, dia dapat memperoleh makanan atau mainan. Akibatnya, frekuensi tantrum di kemudian hari dapat terus meningkat.

“Kontrol emosi diri dari orang tua sangat penting dalam menangani tantrum. Jika orang tua paham apa yang diinginkan anak, maka ketika anak menunjukkan perilaku tantrum harusnya justru dilatih dengan tidak memberikan apa yang diiinginkannya,” Anita mengingatkan.

Jika dituruti, akan muncul dampak negatif dalam diri anak di mana ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan melalui tantrum. Anak juga akan belajar bahwa perilaku tersebut dapat menjadi “senjata” nya.

“Hal ini bisa memengaruhi sosialisasinya di lingkungan yang lebih luas, misalnya di sekolah dan ketika ia dewasa mungkin tidak lagi muncul tantrum, namun kemungkinan yang timbul adalah kemampuan individu untuk mengontrol diri atau meregulasi diri,” tambah Anita.

Next Post

No more post

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *